Hubungan Bahasa Arab Dengan Pendidikan Islam

Dunia pendidikan merupakan dunia rumit dan penuh liku yang terkadang curam tajam meliuk, terkadang mendaki terjal dan kasar. Bolehlah diibaratkan dunia pendidikan seperti negeri rimba raya yang penuh misteri. Ia hanya dapat disingkap dengan pengetahuan dan pengalaman serta permenungan mendalam. Hal inilah yang menjadikan dunia pendidikan harus digali sedalam mungkin agar dapat diselami makna sesungguhnya, apalagi jika pendidikan itu berhubungan erat dengan Islam yang tentunya jauh lebih kompleks.

Pendidikan merupakan kebutuhan primer manusia untuk mempertahankan eksistensinya serta mengembangkan jati dirinya dalam kehidupannya di tengah arung samudra jagad raya yang amat luas ini. Manusia merupakan sosok wujud makhluk lemah dalam ekosistem global. Mustahil baginya dapat hidup didalam perputaran roda dunia dan ganasnya rimba alam semesta tanpa pendidikan. Karena dengan pendidikan inilah manusia dapat mengatasi segala tantangan kehidupan cadas ini dengan mudah. Dengan kata lain, tidaklah berlebihan jika usia pendidikan sebenarnya sama dengan keberadaan manusia sejak diciptakan Tuhan.

Adapun pendidikan Islam merupakan cara pendekatan pendidikan bagi manusia yang beranjak dari dasar ajaran Islam. Pendidikan Islam merupakan salah satu dari sekian banyak model dan cara pendekatan pendidikan yang telah ditawarkan oleh para pakar pendidikan dunia, terutama para pendidik besar Islam yang telah hidup jauh beberapa abad yang lalu. Adapun kunci dalam mempelajari khazanah pendidikan Islam adalah penguasaan bahasa Arab, sebab semua literatur pendidikan Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits yang memang berbahasa Arab.

Karena itu, Al-Baghdadi[1] menyatakan bahwa seluruh program pendidikan Islam seharusnya berdasarkan aqidah Islam dan menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya diseluruh jenjang pendidikan, baik negeri maupun swasta. Rasululloh Muhammad SAW selaku kepala negara Islam pertama telah memberikan tauladannya dalam penggunaan bahasa Arab. Hal ini dilakukan oleh Rasululloh seperti dalam perkara surat-menyurat antara beliau dengan para raja diluar negeri antara lain Kisra di Persia, Muqouqis di Mesir, Kaisar Heraklius di Romawi dan raja-raja lainnya disekitar Jazirah Arab. Surat-surat beliau ditulis dalam bahasa Arab, padahal saat itu sudah dimungkinkan penerjemahan ke dalam bahasa non-Arab (asing). Rasululloh tidak pernah menggunakan bahasa mereka sedikitpun walaupun mereka bukan orang Arab. Hal ini membuktikan bahwa bahasa Arab adalah satu-satunya bahasa resmi dalam Islam yang memiliki kedudukan istimewa disamping sebagai alat komunikasi antar sesama manusia dalam Islam, baik mereka yang termasuk Arab ataupun non-Arab (‘Ajam). Oleh sebab itu, tiap muslim non-Arab diwajibkan untuk mempelajari bahasa Arab dengan tekun dan sungguh-sungguh agar dapat memahami kepustakaan Islam yang kaya ilmu dan budaya. Imam Syafi’i menjelaskan dalam kitab “Ar-Risalat Fi ‘Ilmil Ushul” nya yang terkenal, bahwa “Sesungguhnya Alloh SWT mewajibkan seluruh ummat untuk mempelajari lisan Arab dengan tekun dan sungguh-sungguh agar dapat memahami kandungan Al-Qur’an dan untuk beribadah”. Hal ini[2] didasarkan pada Al-Qur’an surat Yusuf : 2 :

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya.

Dalam kitab “Al-Jaami’ Al-Shoghir” karya Al-Suyuthi[3], diungkapkan bahwa Rasululloh SAW bersabda :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أحبوا العرب لثلاث : لأني عربي، والقران عربي، وكلام أهل الجنة عربي

Cintailah bahasa Arab karena tiga alasan : karena aku bangsa Arab, Al-Qur’an berbahasa Arab dan lisan (bahasa) ahli surga juga Arab.

Berdasarkan inilah[4] maka tidak ada peluang bagi bahasa apapun selain bahasa Arab sebagai alat komunikasi di dalam Islam dan khilafah Islamiyah. Perlu diketahui, bahwa unsur terpenting dalam penyampaian ilmu pengetahuan Islam adalah bahasa. George Zaidan dalam kitab “Al-Tarikh Al-‘Adab Al-Lughoh Al-‘Arobiyah”nya menyatakan “…..bahwa bahasa Arab menjadi bahasa politik dalam sebagian besar negara-negara Islam, serta menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan agama di hampir seluruh dunia Islam. Disamping itu, bahasa Arab selalu menjadi bahasa agama di dunia Islam, baik di timur maupun barat. Tidak ada seorang sarjana muslim-pun yang tidak memahami dan mempelajari bahasa Arab. Bahkan masyarakat Eropa-pun dimasa bangkitnya (Renesaince), para filsuf dan sarjananya selalu memperluas pengetahuannya dan tidak bisa menghindarkan dirinya dari mempelajari bahasa Arab”.

Ini merupakan salah satu bukti nyata bahwa sistem pendidikan Islam telah menjadi tolok ukur (barometer) dan standart bagi orang-orang Eropa dimasa awal kebangkitan mereka. Pada masa awal kebangkitannya, Eropa tidak memiliki jalan lain untuk maju kecuali pergi dan belajar ke negeri-negeri kaum muslimin, sehingga mereka mampu memanfaatkan khazanah ilmu hasil peradaban Islam yang kaya.

___________________________________________

[1] Abdurrahman Al-Baghdadi. 1996. Sistem Pendidikan Dimasa Khilafah Islamiyah. Bangil Jatim : Al-Izzah. Hal : 8-10

[2]Departemen Agama RI. 1992. Al-Qur’an & Terjemahannya Juz 1-30. Bandung : Gema Risalah Press

[3]Jalaluddin Abdurrahman Abu Bakr Al-Shuyuthi. 1983. Al-Jaami’ Al-Shoghir “Al-Majmul Al-Sunnah”. Surabaya : Syirkah Nur Asia

[4]Abdurrahman Al-Baghdadi. Ibid. Hal : 13

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook
YouTube
Instagram