Psikologi[1] dari bahasa Yunani, yaitu Psyche artinya Jiwa dan Logos berarti Pengetahuan. Jadi, Psikologi menurut etimologi (arti kata) berarti ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya. Pada umumnya, masalah-masalah yang sering dikupas Psikologi adalah gejala-gejala jiwa manusia seperti halnya perasaan, kemauan, prilaku, emosi, berfikir yang semuanya terlepas dari alam dan seolah-olah manusia memiliki kemampuan dan kekuatan yang terlepas dari alam sekitarnya dan berdiri sendiri dengan segala keutuhan jiwanya.
Hubungan antara Psikologi dengan bahasa sangat erat[2] sehingga terdapat suatu pengertian tersendiri bagi bahasa menurut perspektif Psikologi, yakni bahwa bahasa adalah suatu ungkapan ekspresi kejiwaan yang tersusun dari berbagai bunyi dengan intonasi tertentu untuk menampakkan keinginan dan kenyataan yang ada. Hal ini didukung oleh teori-teori berikut ini :
- Karena bahasa merupakan pra-syarat bagi pewarisan tradisi dan pertumbuhan awal kebudayaan manusia, maka awal mula bahasa tumbuh, yang dalam hal ini lebih tepat disebut Pra-Bahasa (Pre-Lingual) mungkin sudah ada pada Hominid, yakni makhluk hidup yang menyerupai manusia dan telah ada sejak ratusan juta tahun lalu. Ciri-ciri Hominid ini diantaranya telah berdiri tegak dan berjalan dengan kedua kakinya, berdahi miring ke belakang, wajahnya menonjol ke depan, isi tengkoraknya berkisar antara 750-130 cc. Ia termasuk dalam Genus Homo, sebagai primata yang sudah mengalami pertumbuhan yang sempurna dan terdiri dari berbagai macam Homo (tetapi berbeda dengan Homo-Sapien maupun kera). Sedangkan bahasa yang sesungguhnya baru timbul lebih jelas di kemudian. Menurut Dr. Teuku Jacob (penemu fosil purba Pitherchantropus Erectus di Sangiran), yang meyakini bahwa mereka telah berkomunikasi secara Linguistik walaupun masih sangat terbatas dan harus dibantu dengan isyarat-isyarat tubuh serta ekspresi khusus. Sikap tegaknya tubuh sudah tercapai meski lentik leher belum sempurna 100% ini merupakan faktor terpenting untuk memungkinkan adanya saluran suara yang sesuai dengan hukum komunikasi verbal. Dr. Teuku Jacob menyimpulkan bahwa bahasa telah berkembang secara perlahan dari sistim tertutup ke sistim terbuka, yakni dimulai ± 2 hingga ½ juta tahun lalu. Akan tetapi, secara Psikologi baru dianggap sebagai Proto-Lingua antara 100.000 – 40.000 tahun lalu. Perkembangan yang terpenting baru terjadi sejak Homo-Sapien, dan perkembangan bahasa yang sangat pesat ini baru terjadi di zaman pertanian, karena terdorong oleh keadaan yang ada pada saat itu.
- Teori Imitasi yang dicetuskan oleh Levevre (tahun 1894, Linguis Psikoanalis) menyatakan, bahwa binatang memiliki dua elemen bahasa terpenting yaitu teriakan (Cry) reflek yang spontanitas dapat terjadi disebabkan emosi (nafsu dan kebutuhan) serta teriakan suka-rela (Call) untuk memberi peringatan, memanggil, pernyataan ancaman. Dari kedua jenis elemen ini, manusia mampu mengembangkannya menjadi berbagai macam bunyi dengan mempergunakan variasi tekanan, reduplikasi dan intonasi berkat mekanisme ujaran yang lebih praktis dan sempurna sehingga otak lebih berkembang. Dalam perkembangan selanjutnya, manusia melakukan peniruan.
- Teori Onomatopetik / Teori Echoic (teori imitasi bunyi/ gema) yang dicetuskan oleh J.G. Herder, menyatakan bahwa tiap objek diberikan label/ nama sesuai dengan bunyi yang dihasilkannya. Objek yang dimaksudkan adalah bunyi binatang dan peristiwa alam. Manusia berusaha menyebut objek atau perbuatannya dengan bunyi itu. Dengan cara inilah tercipta bahasa, yang oleh Max Muller disebut “Teori Bow-Wow”. Etiene Bonnet Condillac and Whitney mengemukakan “Teori Interyeksi”, yakni teori yang menyatakan bahwa bahasa lahir dari ujaran-ujaran instinktif karena adanya tekanan batin, karena perasaan yang mendalam, karena rasa sakit yang dialami oleh manusia. Wajarlah kalau orang yang tidak terpelajar dan otak serta pemikirannya belum berkembang, jika mereka ingin mengungkapkan/ menyatakan sesuatu hanya dengan ekspresi wajah alamiahnya saja. Ini menggambarkan bahasa jiwanya untuk menyatakan sesuatu tersebut. Teori ini akhirnya dikenal dengan “Teori Pooh-Pooh”. Wilhelm Wundt (Psikolog terkenal abad 19) menyatakan bahwa setiap perasaan manusia selalu memiliki bentuk ekspresi khusus yang merupakan pertalian tertentu antara syaraf reseptor dengan syaraf efektor. Bila diadakan pengamatan yang mendalam atas ekspresi itu, maka akan tampak bahwa tiap ekspresi akan mengungkapkan perasaan tertentu yang dialami oleh seseorang. Tiap ekspresi dihubungkan dengan syaraf tertentu yang dapat dipakai untuk mengkomunikasikan kenyataan itu kepada orang lain. Bahasa isyarat timbul dari emosi tersebut. Komunikasi gagasan ini dilakukan dengan gerakan tangan yang membantu geraka. Perilaku ini dapat membangkitkan perasaan dan emosi yang sama pada diri orang lain. Dengan proses berfikir yang lebih sempurna, gerakan-gerakan ini awalnya tidak disengaja, namun lambat laun akan menjadi gerakan yang disengaja dan beraturan. Maka, bahasa disini bermakna komunikasi fikiran. Kemampuan mendengarkan memungkinkan manusia mampu menciptakan jenis gerakan artikulatoris, disamping gerakan Mimetic dan Panthomimetic.
- Sebenarnya masih sangat banyak teori yang memberikan gambaran jelas tentang asal-usul bahasa dan pengertiannya menurut Psikologi, yang tentunya sudah lebih berkembang dan universal. Diantaranya adalah teori Isyarat Oral oleh Sir Richard Paget, teori Psikologi Kontrol Sosial oleh Grace Andrus de’ Laguna, teori Contact oleh G. Rěvěs, teori yang diajukan oleh Sir Charles F. Hockett dan Sir Robert Ascher tahun 1964 (teori Hockett-Ascher) mengenai perkembangan bahasa awal yang diikuti perkembangan kejiwaan serta evolusi manusia.
______________________________
[1]Drs. H. Abu Ahmadi. 1990. Psikologi Sosial. Jakarta : Rineka Cipta. hal : 10-12
[2]Gorys Keraf. 1996. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. hal : 23-25