
Bahasa merupakan suatu kebutuhan bagi seluruh mahluk hidup yang mendiami jagad raya ini. Hal ini tidak dapat dipungkiri lagi, karena ia merupakan salah satu bagian penting eksistensi kehidupan. Bahasa merupakan sarana interaksi sosial terpenting bagi tiap mahluk hidup dalam habitatnya masing-masing.
Manusia adalah salah satu dari sekian banyak jumlah kumpulan mahluk hidup yang mendiami jagad raya ini, yang diciptakan oleh tuhan sebagai mahluk yang beradab, berbudi dan berestetika. Ia sangat memerlukan adaptasi, interaksi, sosialisasi dan komunikasi dengan sesamanya maupun dengan lingkungan tempat dimana ia tinggal. Meskipun begitu, manusia memiliki beragam bahasa yang sudah tentu berbeda-beda pula. Hal ini disebabkan adanya tingkat pengaruh lingkungan, ragam budaya, ragam adat dan lokasi kehidupan yang berbeda-beda pula.
Adapun pemerolehan bahasa dalam Ilmu Jiwa Belajar Bahasa, sebenarnya telah dijelaskan dalam Al-Qur’an, melalui ayat-ayat yang kini menjadi dasar para Linguis besar barat.
Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”. (Surat An-Naml : 16)
Ini merupakan ayat yang menjadi dasar utama pemerolehan bahasa bagi manusia. Dalam ayat ini dijelaskan, bahwa kalimatمَنْطِقَ yang berasal dari Fi’il Madli (kata kerja bentuk lampau) yakniنَطَقَ berarti ucapan yang memiliki makna logis. Dari sinilah muncul sebuah ilmu logika kebahasaan yang disebut عِلْمُ الْمَنْطِق atau ilmu logika berbahasa (retorika).
Jika memang demikian, maka makna penting yang terkandung dalam ayat diatas ialah “Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung (menurut kemampuan logika kami)”.
Dengan demikian, dapat diambil suatu pengertian bahwa Al-Qur’an mengisyaratkan kata مَنْطِقَ yang memiliki 2 maksud mendasar :
- Kata مَنْطِقَ mempunyai makna bahwa bahasa itu adakalanya berbentuk ucapan, tulisan, simbol, kode-kode yang berhubungan dengan nalar budaya masyarakat tertentu.
- Kata مَنْطِقَ mempunyai makna bahwa bahasa dapat digunakan sebagai sarana komunikasi khusus seperti yang telah dicontohkan dalam ayat diatas*.
Pengertian ini, juga telah dijelaskan dalam Tafsir Jalaalaini yang menyebutkan bahwa Nabi Sulaiman AS telah mewarisi segala ilmu, kenabian hingga kekuasaan (Singgahsana) ayahnya yaitu Nabi Daud AS. Dalam tafsir ini juga dijelaskan, Nabi Sulaiman mempunyai suatu keistimewaan luar biasa yang berupa kemampuannya memahami bahasa burung (binatang)[1]. Kemampuan ini diperoleh dari ayahnya melalui latihan rutin (kebiasaannya sehari-hari), hanya saja beliau lebih menonjol dari ayahnya.
Dalam contoh lain, kita dapat menemukannya dalam pertunjukan sirkus (Gibsy Show), dimana seluruh binatang yang dipertontonkan dalam pertunjukan tersebut adalah binatang-binatang yang terlatih dan memang sengaja dilatih untuk tujuan pertunjukan tersebut. Para pelatihnya hanya memberikan bimbingan-bimbingan khusus yang berkaitan dengan pertunjukan sirkus saja, agar saat penampilannya nanti sang pelatih dengan mudah memerintahkan dan mengendalikan binatang tersebut untuk melakukan sesuatu sesuai dengan yang dikehendakinya.
Tapi diluar itu, binatang-binatang sirkus tersebut tidak bisa dikendalikan oleh orang lain selain pelatihnya sendiri. Hal ini menunjukkan, komunikasi yang dilakukan para pelatih terbatas pada kemampuan binatang-binatang tersebut. Dalam hal yang sedemikian ini, sang pelatih hanya memberikan bimbingan kepada binatang-binatang itu dengan menggunakan pola latihan dan pengulangan untuk membiasakan mereka, serta bahasa yang dominan digunakan adalah bahasa isyarat, sebab pada dasarnya manusia tidak memiliki kemampuan berbicara bahasa hewan.
Maka, teori yang telah dikemukakan oleh B.F. Skinner (seorang Linguis besar) yang menyatakan “Bahasa dapat diperoleh melalui kebiasaan”, memiliki kesamaan maksud dengan teori yang diungkapkan Al-Qur’an diatas.
Masih dari sumber ayat yang sama, kita menemukan kata عُلِّمْنَا yang berasal dari kata kerja bahasa Arab عَلَّمَ – يُعَلِّمُ yang berarti mengajar, melatih, memberi tanda[2]. Kata kerja yang digunakan dalam ayat ini berbentuk Fi’il Madli Majhul yang berarti “telah diajarkan kepada kami”, yang berarti bahwa Nabi Daud dan Nabi Sulaiman telah dilatih oleh Alloh SWT dan diajarkan kepada keduanya tentang logika ungkapan burung. Jika hal ini dihubungkan dengan surat Al-Baqoroh : 31, maka akan kita dapatkan makna kata عُلِّمْنَا yang sesuai dan sepadan, yakni :

“Dan Dia (Alloh SWT) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat…….”
Pemakaian kata عَلَّمَ dalam ayat tersebut menunjukkan adanya dua kemungkinan yang telah terjadi, yakni :
- Pada waktu Nabi Adam As pertama kali diciptakan, beliau telah mampu berbahasa sebagai alat komunikasinya.
- Ataukah beliau belum bisa berbahasa dengan baik (berbicara seperti orang bisu), sehingga Alloh SWT harus mengajarinya berbahasa dengan baik.
Dari korelasi dua ayat Al-Qur’an diatas yang menerangkan tentang pemerolehan bahasa pada manusia, jika dilihat dari perspektif Psikologi Natural, maka teori yang telah diungkapkan oleh Noam Chomsky (seorang Linguis besar barat) yang menyatakan “Manusia sewaktu dilahirkan, telah membawa kompetensi/ kemampuan dasar untuk berbahasa”, memiliki kesamaan maksud dengan teori ayat Al-Qur’an diatas.
Fenomena ini di dukung atas dasar kehidupan Nabi Adam As ketika masih berada di surga. Nabi Adam As sebagai manusia sempurna pertama yang diciptakan oleh Alloh SWT, mempunyai kemampuan berbicara dengan bahasa walaupun mungkin pada saat itu beliau sendiri belum mengetahui secara pasti makna ucapannya sendiri.
Ada 3 teori dasar yang telah diajukan oleh orang-orang Yunani kuno abad ±2 SM, yang diantaranya adalah pakar bahasa Yunani, yakni Dionysius Thrax dan Apollonius Dyscollus tentang asal bahasa manusia yang memperkuat alasan Noam Chomsky dan Al-Qur’an :
- Ding Dong Theory, yang menyatakan bahwa bahasa diperoleh dengan cara merespon semua benda yang dapat menghasilkan bunyi.
- Bow Wow Theory, yang menyatakan bahwa bahasa diperoleh dengan cara menirukan segala suara/ bunyi.
- Pooh Pooh Theory, yang menyatakan bahwa bahasa diperoleh dengan menirukan teriakan dan suara dentuman atau hentakan yang keras.
Pada dasarnya, orang-orang Yunani kuno tidak pernah memperbaiki tata bahasanya hingga abad ke-18, ketika para ahli berhenti memandang bahasa sebagai anugerah dari Tuhan, yang berfungsi sebagai pelengkap bagi segala makhluk hidup ciptaan-Nya[3].
Tapi, seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan kebudayaan, maka bahasa mulai menjadi pokok bahasan utama para ilmuwan dan cendekiawan dunia hingga saat ini.
Jadi, dari tafsiran ayat-ayat Al-Qur’an inilah kedua pendapat atau teori yang telah diajukan oleh para pakar bahasa dari barat dapat dipertemukan melalui kajian Islam yang mendalam.
__________________________________________________________________
[1] Imam Jalaluddin Al-Mahalli & Imam Jalaluddin As-Syuyuthi, Tafsir Jalalaini 3 (Tarjamah), Bandung : PT. Sinar Baru, 1990, Hal : 361
- Pendapat Penulis
[2]Prof. DR. H. Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, Jakarta : Hidakarya Agung, 1990. Hal : 186
[3] Leonard Bloomfield, Language (terjemahan), Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1995. Hal : 81